https://pena.my.id | Manila, Filipina – Sabtu, 11 Juli 2026. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan mengambil keputusan. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan teknologi tersebut, muncul pula pertanyaan mendasar mengenai batas-batas etis penggunaan AI, relasinya dengan kecerdasan manusia, serta tanggung jawab moral dalam mengendalikan teknologi yang terus berkembang pesat.
Persoalan itu menjadi pokok refleksi RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, dalam pemaparannya di Central Seminary UST Manila. Ia menegaskan bahwa AI merupakan salah satu pencapaian besar peradaban manusia, namun tidak boleh ditempatkan sebagai pengganti martabat, kebebasan, maupun tanggung jawab manusia.
Memahami Hakikat Kecerdasan Buatan
Mengawali pemaparannya, RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak peserta memahami terlebih dahulu hakikat kecerdasan buatan sebelum menilai dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Menurutnya, AI merupakan teknologi transformatif yang memungkinkan mesin melakukan berbagai tugas pemecahan masalah menyerupai kemampuan manusia melalui pemanfaatan algoritma komputasi dan pembelajaran dari data.
“Kecerdasan buatan atau AI adalah teknologi transformatif atau sistem yang memungkinkan mesin melakukan tugas pemecahan masalah seperti manusia. Dengan kata lain, AI adalah simulasi kecerdasan manusia yang dibantu atau digerakkan oleh algoritma komputasi pada mesin sehingga memungkinkannya belajar dari data, mengenali pola, dan memecahkan masalah,” ujar RD. Domincs Baldawins Masriat.
Ia menjelaskan bahwa AI modern bekerja dengan memproses miliaran data menggunakan perhitungan matematika kompleks untuk menghasilkan prediksi, membuat teks, gambar, maupun kode secara cepat. Namun, kemampuan tersebut tidak berarti AI memiliki kesadaran sebagaimana manusia.
Menurutnya, model AI saat ini tidak berpikir sebagaimana otak manusia, melainkan bekerja melalui jaringan saraf tiruan (artificial neural network) yang memanfaatkan algoritma statistik tingkat lanjut dan teknologi deep learning untuk mengenali hubungan antardata.
AI Bukan Kecerdasan Manusia
RD. Domincs Baldawins Masriat menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak dapat disamakan dengan kecerdasan manusia.
AI, katanya, dibangun berdasarkan data dan algoritma, sedangkan manusia memiliki kesadaran, pengalaman hidup, emosi, kehendak, serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan moral.
“AI hanyalah sebuah alat atau mesin, sedangkan kecerdasan manusia adalah entitas yang utuh. AI berbasis pada data dan algoritma, sementara kecerdasan manusia bersumber dari kesadaran, pengalaman hidup, emosi, dan etika.”
Ia menambahkan bahwa manusia memiliki dua dimensi yang tidak dimiliki AI, yakni intellectus (akal budi) dan voluntas (kehendak). Kedua aspek tersebut memungkinkan manusia mempertimbangkan nilai, mengambil keputusan etis, serta bertanggung jawab atas setiap konsekuensi tindakannya.
Di sisi lain, AI memiliki keunggulan dalam mengolah data dalam jumlah besar secara konsisten dan cepat. Teknologi tersebut mampu menganalisis ribuan dokumen, transaksi, maupun informasi dalam hitungan menit, sesuatu yang membutuhkan waktu jauh lebih lama apabila dilakukan manusia.
Etika Menjadi Penentu Arah Penggunaan AI
Meski menawarkan berbagai manfaat, RD. Domincs Baldawins Masriat mengingatkan bahwa AI tetap memiliki berbagai keterbatasan.
Menurutnya, AI tidak memahami tujuan di balik pertanyaan, tidak mengenali dinamika hubungan antarmanusia, serta tidak mampu menilai keputusan berdasarkan nilai-nilai moral.
“AI dapat menghasilkan informasi yang salah, menyesatkan, dan tidak berdasarkan fakta, namun dengan percaya diri memberikan rekomendasi seolah-olah informasi tersebut benar.”
Ia juga menyoroti risiko bias algoritma, kesalahan data, ancaman terhadap privasi, hingga potensi kerusakan yang lebih luas apabila sistem AI digunakan tanpa pengawasan manusia. Karena itu, penggunaan AI harus selalu berada dalam koridor etika dan tanggung jawab manusia.
“Manusia harus memegang kendali, bukan sekadar untuk formalitas kepatuhan, melainkan sebagai tanggung jawab hukum dan moral karena AI tidak bisa digugat.”
Menurutnya, manusia wajib membangun sistem pengawasan yang mampu mendeteksi bias, memperbaiki kesalahan, sekaligus memastikan bahwa perkembangan AI benar-benar diarahkan bagi kesejahteraan bersama.(rls:jk)

