https://pena.my.id | Saumlaki – Minggu, 12 Juli 2026 – Suasana penuh sukacita menyelimuti Ibadah Raya Minggu di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (Milos) Saumlaki, Jalan Ir. Soekarno, Minggu (12/7/2026). Alunan pujian dan penyembahan yang dipimpin Pelayan Tuhan, Ibu Ani Boritnaban, bersama tim singer dan pemusik yang mengiringi dengan keyboard, drum, serta gitar, mengantar jemaat memasuki hadirat Tuhan dengan hati yang penuh syukur.
Ajakan sederhana namun penuh makna, “Mari kita hampiri Tuhan dengan rasa syukur,” menjadi pembuka ibadah yang mengarahkan seluruh jemaat untuk memusatkan hati kepada Tuhan sebelum mendengarkan firman.
Kuasa yang Mengubah Karakter
Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Johan Batmomolin, S.Th dengan mengangkat tema “Esensi Kuasa dan Menjadi Saksi Kristus”, berdasarkan Kisah Para Rasul 1:8:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Dalam khotbahnya, Pdt. Johan Batmomolin mengajak jemaat memahami bahwa kuasa Roh Kudus tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan melakukan mujizat atau kesembuhan, tetapi terutama sebagai kuasa yang membentuk kehidupan rohani seseorang.
Ia menegaskan bahwa kuasa terbesar bukanlah kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan mengalahkan diri sendiri.
“Kuasa sejati adalah mematikan manusia lama kita. Kuasa terbesar adalah mematikan ego kita, menaklukkan kedagingan kita, termasuk kecintaan kepada uang. Kuasa itu bertujuan memulihkan gambar Allah dalam diri manusia. Itulah tujuan Kristus,” tegasnya.
Menurutnya, karakter Kristus merupakan ukuran utama seseorang yang telah menerima kuasa Roh Kudus.
Menjadi Saksi Melalui Gaya Hidup
Pada bagian berikutnya, Pdt. Johan Batmomolin menjelaskan bahwa menjadi saksi Kristus tidak berhenti pada pemberitaan Injil melalui perkataan, tetapi diwujudkan dalam seluruh aspek kehidupan.
“Yesus berkata, kamu akan menjadi saksi-Ku. Menjadi saksi berarti melalui gaya hidup. Bagaimana kita berbisnis, bagaimana kita membangun keluarga, bagaimana Kristus hidup dan berkuasa di dalam diri kita melalui karakter kita. Kita mati terhadap ambisi pribadi dan mencari kemuliaan Bapa di surga,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kerendahan hati merupakan fondasi kehidupan orang percaya. Karena itu, setiap orang dipanggil untuk terus membereskan kehidupannya agar menjadi teladan bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
“Dalam rumah tangga jangan ada kemunafikan. Kita harus membereskan diri terlebih dahulu supaya dapat menjadi teladan seperti jemaat mula-mula di Yerusalem,” katanya.

Kuasa untuk Bertahan dalam Kebenaran
Menutup pemberitaan firman, Pdt. Johan Batmomolin mengajak jemaat membangun kehidupan yang dipimpin Roh Kudus.
Menurutnya, orientasi hidup orang percaya harus selalu diarahkan kepada kehendak Allah, bukan kepada kepentingan pribadi.
“Bagaimana kita menghidupi firman, bagaimana orientasi hidup kita, kita harus membereskan hidup kita. Saya percaya kita semua mau menyerahkan hidup kepada Tuhan. Kuasa diberikan agar kita bertahan dalam kebenaran dan menjadi saksi-Nya. Kita membutuhkan pembentukan karakter Kristus serta hidup yang dipimpin Roh Kudus. Amin untuk kebenaran firman Tuhan,” pesannya.
Firman tersebut disambut jemaat dengan penuh perhatian sebelum ibadah dilanjutkan pada saat persembahan.
Sambutan Hangat bagi Jemaat
Memasuki sesi persembahan, worship leader mewakili jemaat menyampaikan apresiasi kepada hamba Tuhan yang telah melayani pemberitaan firman.
“Atas nama jemaat, kami mengucapkan terima kasih kepada hamba Tuhan yang telah memberkati kami dengan kebenaran firman Tuhan,” ucapnya.
Gembala jemaat bersama seluruh staf pelayanan juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada setiap jemaat yang baru pertama kali hadir beribadah.
“Pintu gereja kami selalu terbuka bagi Bapak dan Ibu pada ibadah-ibadah berikutnya,” demikian pesan yang disampaikan kepada para tamu.
Informasi mengenai kegiatan komsel selama sepekan turut diumumkan dan dapat diakses melalui grup WhatsApp masing-masing komsel.
Ibadah kemudian ditutup dengan doa dan berkat oleh Pdt. Johan Batmomolin, S.Th. Seusai ibadah, jemaat saling berjabat tangan, berbagi salam damai, dan meninggalkan gedung gereja dengan wajah penuh sukacita.
Dari Ibadah Berlanjut pada Semangat Membangun Rumah Tuhan
Usai Ibadah Raya, suasana kebersamaan berlanjut dalam Rapat Panitia Pembangunan Gedung GBI Miracle of the Lord in Solafide (Milos) Saumlaki yang dipimpin Ketua Panitia, Johanis Kopong.
Rapat diawali dengan doa syukur atas penyertaan Tuhan dalam proses pembangunan gereja.
Kabar menggembirakan disampaikan Pdt. Haris Boritnaban, S.Th, yang menginformasikan hasil komunikasi dengan salah seorang jemaat, Bapak Jek Watumlawar.
Menurutnya, terdapat informasi mengenai rencana dukungan dana pembangunan dari DPRD Provinsi Maluku yang akan direalisasikan dalam dua tahap, masing-masing sebesar Rp100 juta, sehingga total bantuan yang direncanakan mencapai Rp200 juta.
Selain itu, panitia diminta segera melengkapi administrasi dan menyusun proposal kepada Pemerintah Provinsi Maluku, termasuk penyesuaian kepengurusan panitia sesuai kebutuhan administrasi di tingkat provinsi.
Dalam kesempatan yang sama, Pdt. Haris Boritnaban juga menyampaikan informasi dari Pdt. Daniel Batmanlussy, S.Th mengenai rencana realisasi Janji Iman dari para donatur dalam waktu dekat. Informasi tersebut disambut penuh syukur oleh seluruh peserta rapat.
Membangun dengan Semangat Gotong Royong
Rapat kemudian membahas kelanjutan pekerjaan pencetakan batako yang sempat mengalami penundaan.
Menanggapi kondisi tersebut, Pdt. Haris Boritnaban mengingatkan pentingnya segera memanfaatkan material semen yang telah tersedia.
“Kita perlu menjaga daya tahan semen agar jangan sampai rusak. Semen ini merupakan bantuan dari Wakil Bupati dan Bapak Alunce, sehingga sebaiknya segera dimanfaatkan untuk pekerjaan pembangunan,” ujarnya.
Ketua Panitia selanjutnya mengusulkan alternatif mendatangkan tenaga kerja dari luar dengan sistem upah harian apabila diperlukan agar pekerjaan tidak mengalami keterlambatan.
Namun apabila Bapak Piter Batlajery tetap bersedia melanjutkan pekerjaan, maka pencetakan batako tetap dipercayakan kepadanya.
Dalam rapat, Bapak Piter Batlajery menyatakan kesiapannya untuk tetap melaksanakan pekerjaan sesuai rencana.
Panitia juga menyepakati keterlibatan jemaat dalam penyediaan konsumsi bagi para pekerja sebagai bentuk pelayanan bersama.
Untuk hari pertama pekerjaan, makan siang akan disiapkan oleh Keluarga Kopong, sedangkan makanan ringan sore hari disediakan oleh Keluarga Ibu Ina Boritnaban.
Seluruh keputusan rapat diambil secara musyawarah mufakat dengan mengedepankan semangat kebersamaan, transparansi, tanggung jawab, dan gotong royong demi mempercepat pembangunan rumah Tuhan.
Di penghujung seluruh rangkaian kegiatan, satu pesan tampak menjadi benang merah yang menyatukan ibadah dan rapat pembangunan hari itu: iman yang sejati tidak berhenti di mimbar gereja, melainkan diwujudkan melalui karakter, kesaksian hidup, serta kerja bersama membangun rumah Tuhan demi kemuliaan-Nya.(rls:jk)

