Agustus 6, 2026

Etika AI: Kolaborasi AI dan Manusia, Kunci Masa Depan yang Beretika

https://pena.my.id | Manila, Filipina – Sabtu, 11 Juli 2026. Kemampuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mengolah data secara cepat dan akurat tidak dapat dipungkiri telah membawa perubahan besar di berbagai sektor kehidupan. Namun, keunggulan tersebut bukan berarti AI mampu menggantikan seluruh kemampuan manusia. Justru, perpaduan antara kecerdasan buatan dan kecerdasan manusia menjadi fondasi utama dalam membangun penggunaan teknologi yang bertanggung jawab dan berorientasi pada kemanusiaan.

Pandangan tersebut disampaikan RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, saat mengulas etika penggunaan AI di Central Seminary UST Manila.

Kecepatan AI Tidak Menggantikan Kebijaksanaan Manusia
RD. Domincs Baldawins Masriat menjelaskan bahwa AI memiliki kemampuan luar biasa dalam mengenali pola, mengolah data dalam jumlah besar, serta bekerja secara konsisten tanpa mengalami kelelahan.

Teknologi tersebut mampu meneliti ribuan dokumen, menganalisis transaksi, maupun menemukan kecenderungan tertentu hanya dalam hitungan menit.
Namun, menurutnya, kemampuan itu tetap memiliki batas.

“AI tidak mengetahui tujuan di balik sebuah pertanyaan atau taruhan di balik sebuah keputusan. AI juga tidak memahami batasan-batasan tak terucapkan yang membentuk tempat kerja, seperti politik organisasi atau kepercayaan pelanggan.”

Ia menjelaskan bahwa AI juga mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada situasi yang membutuhkan pertimbangan nilai, bukan sekadar analisis data.

Selain itu, AI dapat meniru bahasa empatik, tetapi tidak benar-benar mampu merasakan emosi manusia ataupun membangun relasi yang autentik.

Empati dan Kreativitas Tetap Milik Manusia

Menurut RD. Domincs Baldawins Masriat, kekuatan terbesar manusia justru terletak pada aspek-aspek yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi.

Manusia mampu menciptakan gagasan baru, memahami situasi secara kontekstual, serta mengambil keputusan berdasarkan pengalaman hidup, nilai moral, dan tanggung jawab.

“Kecerdasan manusia tidak hanya mengolah ulang materi yang sudah ada. Kecerdasan manusia menciptakan. Kecerdasan manusia menghubungkan titik-titik di berbagai domain yang tidak terkait.”

Ia menambahkan bahwa kreativitas manusia lahir dari intuisi, pengalaman, dan kemampuan membayangkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Karena itu, AI dapat membantu proses riset maupun penyusunan konsep, tetapi gagasan orisinal tetap berasal dari manusia.

Hal yang sama berlaku dalam kecerdasan emosional.
Menurutnya, manusia mampu membaca ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh, serta memahami makna yang tidak selalu diucapkan secara verbal.

“AI dapat mendekati bahasa empatik, tetapi tidak dapat mendeteksi ketika seseorang menutup diri dan menyesuaikan diri secara real time.”

Kemampuan tersebut, katanya, menjadi faktor penting dalam dunia pendidikan, pelayanan kesehatan, kepemimpinan, maupun pelayanan pastoral.

Kolaborasi Menjadi Jalan Terbaik
Alih-alih mempertentangkan AI dengan manusia, RD. Domincs Baldawins Masriat menilai keduanya justru harus bekerja secara kolaboratif.

Menurutnya, pola kerja yang ideal dimulai ketika manusia menetapkan tujuan, nilai, dan batasan, sedangkan AI membantu menghasilkan analisis atau rancangan awal.

Selanjutnya, manusia memverifikasi, mengevaluasi, dan menyempurnakan hasil tersebut sebelum dijadikan dasar pengambilan keputusan. “AI adalah akselerator. Kecerdasan manusia adalah kemudi.”

Ia menegaskan bahwa berpikir kritis tetap menjadi tanggung jawab manusia.
Output yang dihasilkan AI harus selalu diuji akurasinya, dinilai kelayakannya, serta dipertimbangkan dampaknya terhadap manusia.

Dalam konteks tersebut, pengawasan manusia bukan dimaksudkan untuk menghambat perkembangan AI, melainkan memastikan bahwa teknologi berkembang ke arah yang benar serta tetap menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

“Manusia harus memegang kendali bukan sekadar untuk formalitas kepatuhan, melainkan sebagai tanggung jawab hukum dan moral karena AI tidak bisa digugat.”

Melalui kolaborasi yang sehat, AI dapat menjadi instrumen yang mempercepat pekerjaan manusia, sementara manusia tetap menjadi pengambil keputusan yang bertanggung jawab secara etis.(rls:jk)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *