Agustus 30, 2026

Gema Sabda dari Manila: Merawat Kesetiaan dan Ibadah Sejati di Tengah Pusaran Dunia

 

​Manila | https://pena.my.id – Minggu, 30 Agustus 2026. Bertempat di lingkungan akademis dan spiritual Central Seminary University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, keheningan Minggu Biasa XXII menghadirkan riak permenungan teologis yang mendalam. Di tengah dinamika kehidupan global yang kian bergerak cepat dan penuh distraksi materialistis, panggilan untuk menjaga arah kompas moral serta keselamatan jiwa menjadi wacana esensial yang tak lekang oleh waktu.

​Romo Dosen / Pastor Mahasiswa (RD.) Domincs Baldawins Masriat, yang saat ini mengemban pelayanan spiritual bagi mahasiswa Indonesia di UST Manila, membagikan pencerahan iman yang berakar pada perikop-perikop Liturgi Hari Minggu Biasa XXII—kitab Yeremia (Yer 20:7-9), Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (Rom 12:1-2), serta Injil Santo Matius (Mat 16:21-27).

​Dalam berefleksi atas tugas perutusan dan panggilan hidup setiap pribadi, beliau menggarisbawahi pentingnya ketaatan yang tulus kepada Sang Pencipta ketimbang sekadar mengejar pembenaran maupun penerimaan sosial.

​”Pertama, kesetiaan pada tugas kemuridan diukur dari ketaatan kepada Allah, bukan dari penilaian atau apresiasi manusia. Oleh karena itu, jangan terpengaruh dengan kata orang. Tetaplah semangat dalam doa, pewartaan Injil dan perbuatan kasih,” tutur RD. Domincs Baldawins Masriat.

​Beliau memaparkan pula realitas eksistensial manusia yang senantiasa berhadapan dengan keterbatasan fisik, mental, maupun spiritual. Namun, keterbatasan tersebut bukanlah batu sandungan, melainkan ruang bagi bekerjanya penyertaan Ilahi secara utuh.

​”Kedua, Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan, tetapi jangan takut karena rahmat Allah (gratia) selalu ada untuk memampukan kita bertahan melampaui kekuatan yang kita miliki,” terangnya.

​Dalam perspektif liturgis dan etis, ibadah ritual yang dirayakan setiap pekan menurut beliau harus mewujud menjadi kesadaran praksis di tengah masyarakat. Perayaan imamat dan sakramen di dalam gereja semestinya menjadi bahan bakar bagi pembentukan tatanan sosial yang penuh keadilan serta bela rasa.

​”Ketiga, Ibadah sejati tidak berhenti saat Misa Kudus di gereja selesai, melainkan berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, hendaklah kita wujudkan cinta kasih Kristus yang kita peroleh dalam misa Kudus dengan senantiasa melakukan tindakan kasih, keadilan, dan kesetiaan dalam hidup sehari-hari,” tandasnya.

​Menutup permenungannya, pastor asal Indonesia ini memberikan peringatan reflektif mengenai orientasi prioritas hidup. Di tengah godaan kekuasaan, popularitas, dan akumulasi materi yang sering kali mengabaikan integritas moral, integritas jiwa merupakan nilai tertinggi yang wajib dijaga.

​”Keempat, Mempertaruhkan jiwa demi mengejar kekayaan atau kepopuleran duniawi adalah kerugian terbesar. Ingat selalu bahwa dunia bersifat sementara, sedangkan keselamatan jiwa bersifat kekal. Oleh karena itu, berusahalah untuk memperoleh sukacita bukan hanya di dunia ini tetapi juga di surga. Hendaklah berani berkurban demi kebahagiaan keluarga dan sesama, hidup dalam kasih, kebenaran dan keadilan. Sehingga kelak kita memperoleh persatuan bersama Allah di surga,” pungkas beliau.

​Pesan spiritual ini diakhiri dengan untaian doa yang menyejukkan: “Ya Allah berkatilah kami agar kami mampu melakukan kehendakMu.” Sebuah pencerahan yang mengajak setiap insan untuk terus berjalan dalam ketaatan, kerendahan hati, dan pengabdian tulus bagi sesama.

(Editor: joko)

(Sumber: Keterangan Pers RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa UST Manila, Filipina / https://pena.my.id)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *