Oleh: johanis kopong
Perubahan Moral Dimulai dari Kebersihan Hati
pena.my.id | Central Seminary UST Manila, Filipina – Sabtu, 11 Juli 2026.
Berpikir Kritis di Tengah Arus Informasi
Pesan iman tidak hanya berbicara tentang ketaatan terhadap aturan, tetapi juga mengajak umat untuk memiliki kejernihan berpikir, keteguhan moral, serta ketulusan hati dalam menjalani kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan RD. Domincs Baldawins Masriat sebagai Pastor Mahasiswa di UST Manila, Filipina, dalam renungan Sejenak Sabda yang disampaikan dari Central Seminary UST Manila, Sabtu, 11 Juli 2026.
Renungan tersebut mengambil bacaan liturgi Hari Biasa, Pekan Biasa XXI, dengan bacaan pertama dari 2 Tesalonika 2:1-3a, 13b-17 dan Injil Matius 23:23-26.
Tidak Mudah Terprovokasi
Dalam pesannya, RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak umat untuk tetap berpikir kritis dan tenang ketika berhadapan dengan berbagai informasi yang belum tentu benar.
“Hendaklah Kita berusaha agar tetap berpikir kritis dan tenang ketika berhadapan dengan isu-isu yang belum tentu benar. Jangan mudah terprovokasi dan jangan mudah disesatkan dengan ajaran-ajaran menyimpang. Tetap berpikir sehat dan logis dalam menghadapi segala sesuatu.”
Pesan tersebut menjadi penting di tengah derasnya arus informasi yang dapat memengaruhi cara pandang dan sikap seseorang. Karena itu, umat diajak tidak terburu-buru menerima setiap informasi, melainkan mengedepankan kejernihan berpikir dan pertimbangan yang sehat.
Teguh pada Prinsip Iman dan Moral
Selain kejernihan berpikir, RD. Domincs Baldawins Masriat mengingatkan pentingnya mempertahankan prinsip iman dan moral di tengah perubahan zaman.
“Di tengah arus zaman sekarang yang terkadang dipengaruhi oleh kebohongan dan manipulasi moral, kita berusaha agar tetap berdiri dan setia pada prinsip-prinsip iman dan moral.”
Menurutnya, kehidupan orang Kristiani tidak boleh berhenti pada kepatuhan terhadap aturan yang terlihat dari luar. Ketaatan harus berjalan bersama integritas, kepedulian terhadap sesama, dan rasa keadilan.
Jangan Terjebak Formalitas
Bacaan Injil Matius 23:23-26 juga menjadi dasar refleksi mengenai bahaya kehidupan beriman yang hanya berorientasi pada formalitas.
“Hidup bukan hanya soal menjalankan aturan supaya dilihat orang bahwa kita taat pada aturan. Hidup orang kristiani harus lebih dari itu. Kita jangan seperti orang munafik yang sibuk menjalankan aturan formal atau ritual kasatmata, namun kehilangan integritas, kepedulian terhadap sesama, dan rasa keadilan.”
Pesan tersebut mengajak umat untuk melihat kembali makna ketaatan. Iman tidak cukup diwujudkan melalui ritual dan tindakan yang tampak, tetapi harus menghasilkan perubahan dalam sikap, karakter, serta cara memperlakukan sesama.
Perubahan Moral Dimulai dari Hati
Pada bagian akhir, RD. Domincs Baldawins Masriat menekankan bahwa pembaruan moral harus dimulai dari dalam diri. Kebaikan yang dilakukan tanpa ketulusan hati dinilai tidak memiliki makna yang utuh.
“Perubahan moral dimulai dari dalam hati. Dengan kata lain, pencitraan atau kebaikan yang kita lakukan tidak ada artinya jika hati kita masih dipenuhi dengan kebencian, iri hati dan dengki. Hidup harus tulus dan murni.”
Renungan tersebut kemudian ditutup dengan doa agar umat mampu menjalani kehidupan dengan ketulusan dan kemurnian hati.
“Ya Allah berkatilah kami agar kami mampu menjadi orang yang tulus dan murni. Semoga tidak ada kebohongan dalam diri kami.”
Melalui pesan tersebut, RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak umat untuk membangun kehidupan beriman yang tidak berhenti pada apa yang tampak di hadapan manusia.
Iman harus diwujudkan melalui pikiran yang sehat, keteguhan pada prinsip moral, integritas, kepedulian terhadap sesama, serta hati yang tulus dan murni.

