Agustus 23, 2026

Pastor Pius Heljanan: Iman yang Dibangun dari Pengalaman Pribadi Akan Kokoh

https://pena.my.id | Lauran, Minggu, 23 Agustus 2026 – Pastor Pius Heljanan, MSC, mengajak umat Kristiani untuk membangun iman kepada Yesus Kristus bukan semata-mata berdasarkan perkataan, tradisi, atau pemahaman orang lain, melainkan melalui pengalaman pribadi dan relasi yang intens serta intim dengan Tuhan.

Pesan tersebut disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC, dalam refleksinya dengan bertolak dari perikop Injil Matius 16:13-20.

Dalam perikop tersebut, Yesus mengajukan pertanyaan kepada para murid mengenai identitas-Nya sekaligus mengarahkan mereka untuk tidak berhenti pada pendapat orang lain tentang diri-Nya.

“Engkau adalah Mesias, Putra Allah yang hidup!” demikian ungkapan iman yang menjadi titik penting dalam refleksi tersebut.

Pastor Pius menjelaskan bahwa Yesus mengajukan dua pertanyaan penting kepada para murid, yakni mengenai apa yang dikatakan orang tentang diri-Nya dan apa yang secara pribadi diyakini para murid tentang siapa Dia.

“Saudaraku, dua pertanyaan Yesus ajukan untuk para murid. ‘Kata orang’ dan ‘kata mu’, siapakah Aku ini?”

Menurutnya, kedua pertanyaan tersebut memiliki makna yang berbeda dalam kehidupan iman. Jawaban berdasarkan apa yang dikatakan orang lain dapat menggambarkan iman yang bertumpu pada tradisi atau warisan. Sementara itu, jawaban pribadi menunjukkan adanya pengalaman dan pengenalan seseorang terhadap Tuhan.

“Jawaban dari pertanyaan pertama menggambarkan ciri orang beriman berdasarkan tradisi atau warisan. Jawaban kedua lebih menunjuk pada pengalaman pribadi tentang Tuhan.”

Pastor Pius juga menyoroti fenomena di kalangan anak muda Kristen saat ini. Menurutnya, terdapat keadaan ketika seseorang dapat dengan mudah mengenal kehidupan figur publik, tetapi mengalami kesulitan ketika berbicara mengenai Tuhan dan kehidupan rohani.

“Banyak anak muda Kristen sekarang bila ditanya tentang nama artis dan kehidupannya, dijawab dengan lancar; tetapi bila ditanyakan tentang Tuhan dan seputar kerohanian, nampak bingung, menjawab asal-asalan.”

Refleksi tersebut menjadi ajakan agar kehidupan iman tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh dari orang lain. Iman perlu tumbuh melalui relasi pribadi seseorang dengan Tuhan.

Pastor Pius menekankan bahwa iman yang hanya dibangun berdasarkan perkataan orang lain akan menghadapi persoalan ketika seseorang berhadapan dengan tantangan kehidupan. Sebaliknya, iman yang lahir dari pengalaman pribadi bersama Tuhan memiliki dasar yang lebih kuat.

“Berimanlah bukan berdasarkan kata orang, tetapi kata hati, karena relasimu yang intens dan intim dengan Tuhan.”
Ia kemudian memberikan perbandingan mengenai ketahanan iman ketika menghadapi berbagai persoalan.

“Iman yang dibangun dari kata orang, datang badai menjadi rapuh, tetapi berdasarkan pengalaman pribadi akan kokoh.”

Pesan tersebut menjadi ajakan untuk membangun iman Kristiani secara sungguh-sungguh. Mengenal Yesus tidak cukup hanya melalui apa yang dikatakan orang lain, tetapi perlu diwujudkan melalui hubungan pribadi dengan Tuhan yang terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

“Berimanlah dengan benar.”
Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC, tersebut berlandaskan Injil Matius 16:13-20 dan mengingatkan umat bahwa iman yang kokoh membutuhkan pengenalan pribadi terhadap Yesus Kristus, bukan sekadar pengetahuan yang diwariskan atau diterima dari lingkungan.
Editor: johanis kopong)
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *