Agustus 29, 2026

Menjaga Kesetiaan pada Iman dan Kebenaran: Permenungan Kasih dari UST Manila

 

​Manila, Filipina | pena.my.id – Sabtu, 29 Agustus 2026. ​Di tengah dinamika zaman yang kian kompleks dan tantangan etis yang menyertai kehidupannya, panggilan untuk berdiri tegak di atas kebenaran menjadi sebuah imperatif moral yang tak lekang oleh waktu.

Menjelang penghujung bulan Agustus, sebuah refleksi mendalam bergema dari kompleks Central Seminary, University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina. Melalui ingatan akan Peringatan Wajib Wafatnya Santo Yohanes Pembaptis, umat diajak menatap kembali esensi keberanian nurani dan keteguhan iman.

​Renungan spiritual ini disampaikan langsung oleh Pastor Mahasiswa UST Manila, RD. Domincs Baldawins Masriat, sebagai landasan pijak dalam menavigasi dinamika sosial dan integritas diri sehari-hari.

​Dalam pesan spiritual yang disampaikannya, RD. Domincs menegaskan pentingnya konsistensi dalam menyuarakan kebenaran serta keadilan tanpa dibayangi rasa takut terhadap tekanan lingkungan.

​”Sebagai orang Katolik, hendaklah kita berusaha untuk selalu menyuarakan kebenaran dan keadilan dalam hidup setiap hari. Jangan takut menyuarakan nilai-nilai Injil walaupun sering kali berhadapan dengan tantangan dan tekanan sosial di sekitar kita,” ujar RD. Domincs Baldawins Masriat.

​Ia menyadari betul bahwa perjalanan sebagai pengikut Kristus tak akan pernah sepi dari benturan nilai maupun ketidaksukaan pihak lain. Karena itu, pembentukan jiwa yang tangguh (fortitudo) menjadi krusial agar mampu bertahan di tengah gelombang kritik, penolakan, hingga kesalahpahaman.

​Namun, ketangguhan tersebut tidak lahir dari kehebatan pribadi manusia belaka. RD. Domincs mengingatkan bahwa kekuatan sejati berakar pada penyertaan Ilahi yang menuntut kepercayaan penuh (fides). Di samping ketangguhan moral, kebersihan hati dari rasa dendam dan keterbukaan menerima teguran menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan jiwa.

​”Dendam dan ketidakmampuan menerima teguran adalah racun bagi jiwa kita. Oleh karena itu, hendaklah kita berusaha untuk memiliki jiwa pengampunan untuk mengampuni sesama yang bersalah pada kita dan rendah hati dalam menerima koreksi pertobatan demi keselamatan diri kita,” tuturnya menegaskan.

​Aspek kompromi moral juga menjadi sorotan penting dalam refleksi ini. Di tengah godaan konformitas sosial, integritas diri tidak boleh digadaikan hanya demi menjaga gengsi, tekanan kawan, atau sekadar memburu penerimaan duniawi. Kesetiaan kepada Tuhan dan ketajaman suara hati nurani harus menempati posisi tertinggi di atas sekadar penghormatan manusia.

​Menutup permenungannya, RD. Domincs menyentuh dimensi kearifan dalam berjanji dan bertindak. Ia menggarisbawahi bahwa setiap ucapan, sumpah, atau janji yang justru mengarah pada tindakan destruktif serta melanggar hukum kasih tidak memiliki legitimasi moral untuk dituruti. Kebijaksanaan dalam menimbang setiap kata dan komitmen menjadi refleksi kematangan iman seseorang.

​Dari Central Seminary Manila, pesan keteguhan ini mengalun lembut namun tegas: sebuah ajakan untuk tetap menjadi saksi kebenaran yang penuh kasih, bijaksana, dan tak tergoyahkan oleh riak-riak zaman.

​Editor: joko

(Sumber: RD. Domincs Baldawins Masriat / Central Seminary UST Manila, Filipina)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *