Mei 14, 2026

Komunikasi Tertutup di SMKN 1 Pemenang Disorot, Ketua Komite Akui Jarang ke Sekolah — Kepsek Bungkam Saat Dikonfirmasi

Komunikasi Tertutup di SMKN 1 Pemenang Disorot, Ketua Komite Akui Jarang ke Sekolah — Kepsek Bungkam Saat Dikonfirmasi

Lombok Utara NTB ll pena.my.id /Transparansi dan pola komunikasi di lingkungan SMK Negeri 1 Pemenang kini menjadi sorotan publik. Di tengah upaya awak media melakukan konfirmasi terkait sejumlah informasi yang berkembang dari narasumber internal maupun masyarakat, pihak sekolah justru dinilai menunjukkan sikap tertutup.

Awak media sebelumnya telah berupaya menghubungi Kepala SMKN 1 Pemenang guna meminta klarifikasi dan hak jawab atas beberapa informasi yang diterima di lapangan. Namun hingga berita ini diturunkan, Kepala Sekolah belum memberikan respons ataupun jawaban atas pesan konfirmasi yang telah dikirim secara resmi melalui WhatsApp.

Sikap diam tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai keterbukaan pihak sekolah terhadap kontrol sosial dan fungsi pers sebagai penyampai informasi yang berimbang kepada masyarakat.

Di sisi lain, hasil komunikasi awak media dengan Ketua Komite SMKN 1 Pemenang, Agiludin, justru membuka fakta lain terkait aktivitas komite sekolah. Dalam keterangannya, Agiludin mengakui dirinya jarang berada di sekolah ketika aktivitas pariwisata sedang ramai.

> “Saya kalau ramai pariwisata jarang ke sekolah kecuali ada rapat-rapat yang komite harus ikut di dalamnya baru ke sekolah,” ungkap Agiludin kepada awak media.

Tak hanya itu, Ketua Komite juga menyebut rapat bersama wali murid hanya dilakukan dua kali dalam setahun, yakni saat awal ajaran baru dan kenaikan kelas atau kelulusan.

> “Biasanya rapat komite bersama wali murid kami biasa dua kali, pada awal ajaran baru sama kenaikan kelas atau kelulusan,” jelasnya.

Sementara terkait rapat internal sekolah, dirinya mengaku hanya hadir apabila pihak sekolah meminta keterlibatan komite.

> “Kalau rapat bersama internal sekolah tergantung sekolah. Apabila komite harus ikut maka saya hadir. Kalau tidak ya enggak hadir,” tambahnya.

Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian karena komite sekolah memiliki fungsi strategis sebagai penghubung antara sekolah, wali murid, dan masyarakat dalam mendukung kemajuan pendidikan serta pengawasan berbagai kebijakan sekolah.

Sejumlah kalangan menilai lemahnya intensitas komunikasi antara komite dan lingkungan sekolah dapat berdampak pada minimnya pengawasan dan keterlibatan publik dalam dunia pendidikan. Terlebih ketika kepala sekolah juga memilih bungkam saat dimintai klarifikasi oleh media.

“Pers datang bukan untuk mencari sensasi, tetapi menjalankan fungsi kontrol sosial dan menghadirkan informasi berimbang. Ketika pihak sekolah dan komite terkesan tertutup, publik tentu akan bertanya ada apa sebenarnya di balik semua ini,” ujar salah satu pemerhati pendidikan di Lombok Utara.

Kondisi ini dinilai menjadi tamparan bagi prinsip transparansi di dunia pendidikan, terutama di tengah tuntutan keterbukaan informasi publik yang semakin kuat. Sikap tertutup pejabat sekolah dan minimnya kehadiran komite dikhawatirkan memunculkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap tata kelola sekolah.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih membuka ruang hak jawab dan kesempatan klarifikasi kepada Kepala SMKN 1 Pemenang maupun pihak terkait lainnya demi menjaga keberimbangan informasi sesuai kode etik jurnalistik.

Di beritakan oleh sabdanom,

Sumber: ENDI

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *