Mei 20, 2026

Ironis, Berdampingan dengan Tambang Emas Terbesar Banyuwangi, Jalan di Kecamatan Silir Rusak Parah, Warga Protes Tanam Pisang di Tengah Jalan

Banyuwangi, PENA MY ID 19 Mei 2026  Sebuah gambaran kontras yang sangat ironis terlihat jelas di wilayah selatan Banyuwangi. Kecamatan Silir Agung  dikenal luas sebagai lokasi tambang emas terbesar di kabupaten ini, yang setiap harinya beraktivitas menghasilkan kekayaan alam bernilai tinggi. Namun, kemajuan dan kesejahteraan yang seharusnya ikut mengalir ternyata tak terasa di kecamatan tetangganya, Kecamatan Sangar Wilayah ini seolah terabaikan dan tak tersentuh suntikan pembangunan, terutama pada infrastruktur transportasi jalan raya yang kini kondisinya sangat memprihatinkan.

Puncak kekesalan masyarakat akhirnya meluap. Warga yang mendiami sepanjang jalur Dusun Silir Krombang, Desa Seneporejo, Kecamatan Silir, bertindak spontan melakukan aksi protes unik namun menyayat hati. Mereka menanam pohon pisang tepat di tengah badan jalan yang rusak parah, berlubang, dan hancur. Aksi ini menjadi simbol keras bahwa jalan raya tersebut sudah tak lagi berfungsi sebagai jalur lalu lintas, melainkan dibiarkan rusak seperti lahan kosong yang layak ditanami tanaman.

Kondisi jalan yang semakin memperihatinkan ini juga menuai keluhan tajam dari kalangan pengemudi kendaraan niaga. Darmawan, yang merupakan anggota asosiasi pengemudi truk, mengaku sangat kecewa dengan sikap Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang dinilainya acuh tak acuh terhadap kerusakan parah di jalur strategis tersebut. Ia pun meminta dukungan penuh dari seluruh elemen asosiasi pengemudi truk se-Banyuwangi untuk bersama-sama menyuarakan aspirasi dan tuntutan ini agar didengar oleh pemerintah.

“Kami sangat menyayangkan sikap Pemkab Banyuwangi yang seolah menutup mata dan telinga atas kerusakan jalan di daerah ini. Kondisinya sudah sangat parah, berbahaya bagi pengguna jalan, tapi tak ada tanda-tanda perbaikan,” ujar Darmawan dengan nada kesal.

Ia pun melontarkan pertanyaan tajam yang mewakili perasaan seluruh warga dan pengemudi di sana, terkait ke mana aliran dana hasil kekayaan alam daerah tersebut disalurkan.

“Sangat ironis sekali. Di sebelah sana, Kecamatan Sangar, ada tambang emas terbesar di Banyuwangi yang beroperasi besar-besaran. Di mana hasilnya? Di mana alokasi dana Insentif Sumber Daya Alam atau ISR yang seharusnya kembali membangun daerah? Dan yang paling kami tanyakan, di mana suara para anggota Dewan yang terhormat? Apakah mereka tidak tahu atau pura-pura tidak melihat penderitaan kami di sini?” tegas Darmawan.

Menurutnya, keberadaan tambang besar seharusnya menjadi berkah bagi seluruh wilayah di sekitarnya, termasuk kecamatan tetangga. Namun kenyataannya, warga Silir justru menanggung dampak buruk tanpa mendapatkan bagian dari hasil pembangunan. Melalui dukungan asosiasi pengemudi truk, warga berharap suara mereka semakin keras terdengar, agar pemerintah segera turun tangan memperbaiki jalan dan pemerataan pembangunan benar-benar direalisasikan, tidak hanya berpusat di wilayah tertentu saja.

( Sapu jagad 99)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *