Agustus 28, 2026

Gema Kebijaksanaan dari Manila: Merawat Stamina Rohani dan Pelita Iman yang Tak Boleh Padam

​Manila | pena.my.id – Jumat, 28 Agustus 2026. ​Di tengah hening dan megahnya bangunan bersejarah Central Seminary University of Santo Tomas (UST) Manila, ruang kontemplasi terasa melingkupi iklim akademik perguruan tinggi tertua di Asia tersebut. Di tempat yang sarat sejarah spiritualitas inilah, terucap petikan refleksi mendalam mengenai dinamika iman, kerendahan hati, serta kesiapan jiwa manusia dalam menghadapi ziarah hidupnya.

​Melalui narasi pastoral yang sejuk namun sarat ketajaman teologis, Pastor Mahasiswa UST Manila, RD. Domincs Baldawins Masriat, membagikan perenungan mendalam terkait Peringatan Wajib Santo Agustinus, seorang Uskup dan Pujangga Gereja yang dikenal atas perjalanan intelektual serta pencarian kebenaran ilahi yang legendaris. Mengutip Bacaan Pertama dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (1 Kor 1:17-25) serta Injil Santo Matius (Mat 25:1-13) tentang Perumpamaan Gadis-Gadis yang Bijaksana dan Gadis-Gadis yang Bodoh, penekanan mendasar ditujukan pada pentingnya meluruhkan ego intelektual.

​”Hendaklah kita berusaha untuk menanggalkan kesombongan intelektual dalam diri kita. Dan berusahalah untuk selalu rendah hati dan menyadari bahwa kekuatan dan hikmat sejati bersumber dari kasih dan pengorbanan Allah,” tutur RD. Domincs Baldawins Masriat di Central Seminary UST Manila.

​Dalam dinamika kehidupan modern yang serba cepat dan menuntut, kerendahan hati sering kali terdesak oleh ambisi serta pencapaian manusiawi. Namun, perjalanan rohani sejati justru menuntut keberanian untuk menanggalkan rasa jumawa atas ilmu pengetahuan, seraya menyadari keterbatasan diri di hadapan Sang Pencipta.

​Lebih jauh, pesan kenabian hari ini menggarisbawahi bahwa niat baik semata tidaklah cukup untuk menjaga nyala iman. Kehidupan beriman memerlukan kesetiaan yang berkelanjutan serta usaha aktif yang konsisten setiap harinya.

​”Kehidupan beriman tidak cukup hanya berbekal niat awal. Kita diajak untuk nyatakan niat kita dengan senantiasa menjaga pelita iman agar tetap menyala melalui doa, sakramen, dan perbuatan kasih setiap hari, tanpa menunda-nunda,” tegas RD. Domincs.

​Ibarat minyak yang memberi daya bagi pelita dalam perumpamaan Injil, kualitas rohani manusia ditempa melalui ketekunan mengamalkan kasih secara nyata. Keselamatan dan kesucian pun ditegaskan sebagai ranah tanggung jawab pribadi yang tidak dapat diwakilkan.

​”Keselamatan dan kesucian adalah tanggung jawab pribadi. Kita tidak bisa menggantungkan pertumbuhan rohani kita pada kebaikan atau iman orang lain,” tambah Imam yang melayani komunitas mahasiswa Indonesia dan internasional di UST Manila tersebut.

​Prinsip ini menegaskan kembali amanat teologis bahwa setiap pribadi dipanggil untuk mengusahakan relasi personalnya secara berani dengan Tuhan. Kesiapsiagaan tersebut makin krusial mengingat misteri waktu Allah yang tak seorang pun dapat memprediksinya. Gereja Katolik secara berkesinambungan senantiasa mengingatkan setiap umat untuk tidak menunda pertobatan maupun niat berbuat baik, sebab kesempatan hidup yang diberikan Allah senantiasa memiliki batas.

​Menutup perenungannya, RD. Domincs Baldawins Masriat menekankan pentingnya daya tahan rohani (spiritual stamina) agar seorang beriman sanggup bertahan hingga akhir hayat. Faith in action, iman yang menjelma dalam perbuatan nyata, menjadi kunci utama keberlanjutan ziarah rohani tersebut.

​”Menjadi pengikut Kristus membutuhkan stamina rohani. Pelita yang tetap menyala melambangkan iman yang senantiasa dihidupi lewat tindakan nyata, fides per caritatem operatur, iman yang bekerja oleh kasih, hingga akhir hayat,” pungkasnya seraya memohon doa perantaraan Santo Agustinus bagi seluruh umat: “Santa Agustinus, doakanlah kami selalu.”

​Editor: joko

(Sumber: Keterangan resmi RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa UST Manila, bertempat di Central Seminary UST Manila, Filipina)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *