September 28, 2026

ATAP MASIH BOCOR, MARISKA SOROTI TEMBOK RETAK DAN KEKHAWATIRAN KESELAMATAN ANAK

Pena.my.id

PRABUMULIH — Pernyataan DN yang menyebut sebagian kerugian warga terdampak telah diganti dan sejumlah kerusakan telah diperbaiki mendapat klarifikasi dari Mariska.

 

Mariska membenarkan bahwa memang terdapat bagian rumah, khususnya atap, yang telah dilakukan perbaikan. Namun, menurut keterangannya, hasil perbaikan tersebut belum maksimal karena kembali mengalami kebocoran saat hujan deras.

“Memang benar ada yang diperbaiki, terutama bagian atap. Tetapi perbaikannya masih belum maksimal. Tadi malam saat hujan lebat, bagian atap yang diperbaiki kembali bocor dan air membasahi barang-barang kami,” ujar Mariska.

 

Menurutnya, kondisi tersebut membuat keluarga harus membuat tampungan sementara agar air tidak menyebar ke bagian rumah lainnya.

 

“Kami terpaksa membuat tampungan air supaya airnya tidak mengalir ke mana-mana dan semakin membasahi barang-barang yang ada di dalam rumah,” katanya.

 

TEMBOK RETAK BELUM DIPERBAIKI, ADA REMBESAN AIR

 

Namun, menurut Mariska, persoalan yang paling membuat keluarganya khawatir bukan hanya kebocoran atap.

 

Ia menyoroti kondisi tembok rumah yang mengalami retakan setelah peristiwa kebakaran dan hingga kini, menurut keterangannya, belum diperbaiki.

 

Mariska mengaku semakin khawatir setelah melihat adanya rembesan air yang keluar dari bagian retakan tersebut.

 

“Yang sangat menjadi kekhawatiran kami adalah tembok yang retak akibat kejadian kebakaran kemarin sampai sekarang belum diperbaiki. Bahkan sekarang ada rembesan air dari dalam retakan tersebut,” ungkapnya.

 

Menurut Mariska, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan anggota keluarganya, terutama anak-anak yang masih berada di rumah ketika orang tua sedang bekerja.

 

Ia menggambarkan kekhawatiran ketika dirinya harus berjualan di pasar sementara suaminya bekerja dan anak berada di rumah.

 

“Bagaimana kalau saya sedang berdagang di pasar, suami saya sedang bekerja, kemudian anak saya berada dekat tembok tersebut dan tiba-tiba tembok itu ambruk? Itu yang menjadi beban mental kami,” tuturnya.

 

“RUMAH BUKAN YANG KAMI PIKIRKAN, TAPI NYAWA ANAK KAMI”

 

Mariska menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi keluarganya tidak lagi semata-mata menyangkut kerusakan rumah ataupun nilai kerugian materi.

 

Menurutnya, keselamatan anak-anak menjadi hal yang paling utama.

 

“Rumah itu bukan masalah bagi kami. Yang lebih berharga adalah nyawa anak kami. Apa jadinya kalau sampai nyawa anak kami melayang?” ujarnya.

 

Karena itu, Mariska meminta pihak yang berkaitan dengan persoalan tersebut agar segera memberikan perhatian terhadap kondisi tembok yang retak tersebut.

 

Ia berharap pemeriksaan dan tindak lanjut dapat dilakukan secepatnya untuk memastikan apakah kondisi retakan tersebut masih aman atau membutuhkan penanganan teknis lebih lanjut.

 

“Kami mohon agar kiranya masalah ini secepat mungkin ditindaklanjuti oleh pihak yang bersangkutan. Kami ingin hidup tenang dan tenteram tanpa harus terus memikirkan kemungkinan yang tidak kami inginkan,” katanya.

 

TRAUMA PASCAKEBAKARAN MASIH DIRASAKAN

 

Selain persoalan fisik bangunan, Mariska juga mengungkapkan bahwa peristiwa kebakaran sebelumnya masih meninggalkan trauma bagi dirinya.

 

Ia mengaku kesulitan berkonsentrasi ketika sedang berjualan di pasar karena pikirannya terus tertuju kepada kondisi rumah dan keselamatan anak-anaknya.

 

“Saya sampai sekarang masih trauma akibat kejadian kebakaran kemarin. Mau berjualan saja saya sudah tidak fokus lagi karena terus memikirkan dan mengawasi anak-anak saya di rumah,” ungkapnya.

 

Menurutnya, kekhawatiran tersebut semakin besar karena dirinya dan suami memiliki aktivitas pekerjaan masing-masing sehingga tidak mungkin setiap saat berada di rumah untuk mengawasi kondisi bangunan.

 

“Saya di pasar, suami bekerja. Kalau tiba-tiba ada api lagi bagaimana? Saya trauma sekali, Pak,” ujarnya.

 

PERLU PEMERIKSAAN KONDISI BANGUNAN

 

Kondisi tembok retak yang disampaikan Mariska menjadi salah satu bagian yang perlu mendapatkan perhatian dan verifikasi lebih lanjut.

 

Apakah retakan tersebut hanya bersifat permukaan atau berkaitan dengan struktur bangunan? Apakah rembesan air yang muncul dari retakan berpengaruh terhadap kondisi dinding? Apakah bagian tersebut masih aman bagi penghuni rumah?

 

Pertanyaan tersebut idealnya dijawab melalui pemeriksaan teknis oleh pihak yang memiliki kompetensi, bukan berdasarkan dugaan semata.

 

Sementara itu, Mariska berharap persoalan tersebut tidak menunggu sampai terjadi kejadian yang lebih serius.

 

“Kami hanya ingin keselamatan anak-anak kami terjamin. Jangan sampai nanti terjadi sesuatu yang baru semua pihak bertindak. Kami ingin masalah ini diselesaikan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.

 

PERSOALAN BERKEMBANG, PUBLIK MENUNGGU KEJELASAN

 

Sebelumnya, DN menyatakan sebagian kerugian telah diselesaikan, termasuk perbaikan atap dan penggantian sepeda motor.

 

Namun, klarifikasi Mariska menunjukkan masih terdapat persoalan yang menurutnya belum selesai, khususnya mengenai kondisi atap yang kembali bocor dan tembok retak yang belum mendapatkan penanganan sebagaimana yang diharapkannya.

 

Perbedaan keterangan tersebut tidak serta-merta menunjukkan siapa yang benar atau salah. Kondisi sebenarnya tetap perlu diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan, dokumentasi kerusakan, bukti perbaikan, serta keterangan pihak-pihak terkait.

 

Yang menjadi perhatian utama dalam perkembangan terbaru ini adalah aspek keselamatan penghuni rumah.

 

Sebab, apabila benar terdapat kerusakan pada bagian bangunan yang belum ditangani dan terdapat kekhawatiran terhadap keselamatan penghuni, maka persoalan tersebut perlu mendapatkan perhatian dan tindak lanjut yang proporsional dari pihak terkait.

 

Hingga berita ini diterbitkan, keterangan mengenai kondisi tembok dan atap tersebut masih merupakan keterangan dari Mariska dan perlu diverifikasi secara teknis.

 

Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada DN maupun pihak terkait lainnya demi menjaga keberimbangan, akurasi, dan prinsip jurnalistik dalam pemberitaan.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *