Pesan Gubernur DIY Saat Wisuda STPN: Ilmu Pertanahan Bekerja di Antara Peta, Sertipikat, dan Martabat Manusia
SLEMAN | https://pena.my.id – Minggu, 6 September 2026 – Gubernur D.I. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, menilai Indonesia membutuhkan insan pertanahan yang tidak hanya kecakapan membaca peta dan menguasai teknologi, tetapi juga mampu memahami manusia, sejarah, serta kebudayaan yang hidup di balik setiap bidang tanah. Pesan tersebut disampaikan kepada para wisudawan dan wisudawati Politeknik Agraria STPN agar ilmu yang mereka miliki dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pentingnya Keadilan dan Kearifan Lokal
Pesan Sri Sultan Hamengkubuwono X tersebut disampaikan melalui sambutan tertulis yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Provinsi DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, pada acara wisuda Politeknik Agraria STPN di Sleman.
“Indonesia membutuhkan insan pertanahan yang mampu membaca peta sekaligus memahami manusia di dalam peta. Saudara perlu cakap menguasai teknologi, tetapi tetap bijak dalam menimbang rasa keadilan. Saudara perlu teguh menjalankan regulasi tetapi tetap arif membaca sejarah dan kebudayaan masyarakat,” pesan Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Filosofi Tanah Sebagai Fondasi Peradaban
Sri Sultan menegaskan bahwa bagi bangsa Indonesia, tanah bukan sekadar hamparan fisik, melainkan bagian dari jati diri, jejak perjuangan, serta fondasi peradaban. Dalam filosofi Jawa dikenal prinsip Hamemayu Hayuning Bawana, yang mengajarkan pentingnya menjaga keselamatan, ketenteraman, dan keindahan dunia dalam setiap pengelolaan tanah.
Kaya Nilai Adat dan Tradisi Nusantara
Nilai-nilai pengelolaan tanah sebagai amanah bersama juga tercermin dalam berbagai tradisi di Nusantara, seperti Harta Pusaka Tinggi di Minangkabau, sistem Subak di Bali, hingga hak ulayat di Papua dan Maluku.
“Keragaman ini adalah kekayaan tata kelola pemerintahan Indonesia. Regulasi perlu membacanya dengan jernih, kebijakan perlu menghormatinya dengan arif, teknologi perlu mengakomodasinya dengan presisi dan kepekaan,” tutur Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Menjaga Martabat di Balik Setiap Berkas
Sri Sultan mengingatkan bahwa ilmu pertanahan bekerja di antara ukuran teknis dan makna sosial. Ia meminta para lulusan untuk menyadari bahwa di balik setiap berkas pertanahan yang mereka tangani kelak, terdapat harapan kehidupan manusia.
“Di sinilah ilmu pertanahan memperoleh kedudukan strategis. Ilmu pertanahan bekerja di antara ukuran dan makna, antara peta dan manusia, antara sertipikat dan juga martabat,” ungkap Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Harapan Pelayanan Berbasis Rasa Humani
Mengakhiri sambutannya, Sri Sultan berpesan agar para lulusan menjalankan tugas di tengah masyarakat dengan penuh kerendahan hati, menjadikan setiap kegiatan pemetaan dan pengukuran sebagai jalan menuju kepastian serta ketenteraman sosial.
(Editor: joko)
(Sumber: SIARAN PERS KEMENTERIAN ATR/BPN)

