Kadis Ketahanan Pangan Enrekang: Saya Mengabdi Lebih dari 21 Tahun, Jabatan adalah Kewenangan Bupati

Enrekang, pena.my.id – Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Enrekang, drg. Sri Siswati Zainal, M.Adm.Kes, membagikan kisah perjalanan pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara (ASN) saat menerima kunjungan awak media di Kantor Dinas Ketahanan Pangan, Jalan Jenderal Sudirman (eks Gedung RSU), Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Rabu (22/7/2026).
Dalam suasana santai yang diselingi canda tawa, Sri Siswati menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan dirinya tetap menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan di tengah isu mutasi pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Enrekang.
Menurutnya, penempatan maupun pergantian jabatan merupakan hak prerogatif Bupati Enrekang.
“Itu merupakan kewenangan Bupati Enrekang. Saya hanya menjalankan amanah yang diberikan kepada saya.
Sebagai ASN, tugas kami adalah bekerja sebaik-baiknya di mana pun ditempatkan,” ujarnya.
Sri Siswati kemudian menceritakan perjalanan kariernya sejak awal mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia mengaku selama menjadi ASN tidak pernah menduduki jabatan fungsional, melainkan langsung dipercaya mengemban jabatan struktural.
“Sejak menjadi PNS saya tidak pernah menjadi pejabat fungsional. Saya langsung dipercaya memegang jabatan struktural karena memang latar belakang saya lebih pada bidang manajerial. Bahkan sebelum menjadi PNS, saat masih berstatus DPTT, saya pernah meraih predikat Dokter Teladan,” katanya.
Perempuan kelahiran Bulukumba tersebut mengungkapkan telah mengabdi di Kabupaten Enrekang selama lebih dari 21 tahun. Meski berasal dari keluarga berdarah bangsawan, ia memilih tidak menggunakan gelar kebangsawanan dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya memang orang Bulukumba dan memiliki keturunan ningrat. Namun saya tidak pernah menggunakan gelar seperti Andi atau Puang karena saya ingin dikenal dari pengabdian dan pekerjaan saya, bukan dari garis keturunan,” ungkapnya.
Selama memimpin Dinas Ketahanan Pangan, Sri Siswati mengaku lebih mengedepankan kerja sama tim dibandingkan hubungan atasan dan bawahan.
Menurutnya, keberhasilan sebuah organisasi ditentukan oleh kekompakan seluruh pegawai dalam bekerja.
“Saya tidak ingin ada sekat antara bos dan bawahan. Yang saya bangun adalah kerja tim (teamwork). Organisasi yang besar dibangun dengan kebersamaan.
Saya punya keterbatasan, begitu juga pegawai saya. Karena itu kami saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan masing-masing agar tujuan organisasi dapat tercapai,” jelasnya.
Ia juga mengisahkan proses adaptasinya dengan masyarakat Enrekang. Di daerah asalnya, Bulukumba, masyarakat menggunakan bahasa Bugis dan Makassar. Selama bertugas di Enrekang, ia berusaha mempelajari bahasa daerah setempat agar komunikasi dengan masyarakat menjadi lebih akrab.
“Karena sudah lama bertugas di Enrekang, saya juga ingin bisa berbahasa Enrekang agar lebih dekat dengan masyarakat,” tuturnya.
Tak hanya fokus pada tugas menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas pangan, Sri Siswati juga memanfaatkan pekarangan Kantor Dinas Ketahanan Pangan sebagai kawasan edukasi tanaman herbal.
Di halaman kantor tampak tumbuh berbagai jenis tanaman seperti stroberi, okra, rosela, klitoria (bunga telang), kucai, serta sejumlah tanaman herbal lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun minuman kesehatan.
Menurutnya, penanaman tanaman herbal tersebut merupakan contoh pemanfaatan lahan pekarangan yang dapat diterapkan masyarakat untuk mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus menjaga kesehatan.
“Yang kami tanam di sini sebagian besar adalah tanaman herbal. Harapannya, masyarakat dapat melihat langsung manfaatnya dan termotivasi memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman yang bernilai gizi dan bermanfaat bagi kesehatan,” pungkasnya.
Redaksi: Yd
Editor: Yd
