Juli 21, 2026

Pastor Pius Heljanan, MSC: Keluarga Allah Dibangun dalam Iman dan Kasih

Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku | Selasa, 21 Juli 2026 – pena.my.id – Menjadi saudara Yesus tidak semata-mata berbicara tentang hubungan darah atau ikatan keluarga secara jasmani.

Dalam terang iman, persaudaraan dengan Kristus lahir dari kesediaan untuk mengenal-Nya, mengimani-Nya, serta dengan setia menjalankan kehendak Bapa di surga melalui kehidupan yang dipenuhi kasih, pengampunan, dan perbuatan baik.

Pesan rohani tersebut disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, dalam permenungannya atas Injil Matius 12:46-50.

Berangkat dari sabda Yesus, “Siapapun yg melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku,” Pastor Pius mengajak umat untuk memahami kembali makna keluarga dalam perspektif iman Kristiani.

Bagi Yesus, kata Pastor Pius, keluarga tidak berhenti pada hubungan biologis atau pertalian darah. Keluarga dalam iman adalah sebuah relasi rohani yang dibangun melalui kedekatan yang nyata dengan Tuhan dan diwujudkan dalam kehidupan bersama.
“Siapapun yg melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku.”

Sabda tersebut, menurut Pastor Pius, mengandung undangan yang mendalam bagi setiap orang beriman untuk tidak hanya mengaku sebagai pengikut Kristus secara lisan, tetapi juga menghadirkan iman itu dalam tindakan nyata.

Persaudaraan yang Melampaui Ikatan Darah
Pastor Pius menjelaskan, menjadi keluarga atau saudara Yesus bukan sekadar sebuah identitas keagamaan. Lebih dari itu, terdapat panggilan untuk membangun relasi yang rohani, intens, dan intim dengan Kristus.

“Bagi Yesus keluarga/saudara tdk sekedar hubungan darah-tataran jasmani, tpi relasi yg terbangun secara rohani, intens dan intim degnNya.”

Dalam pemahaman tersebut, iman menjadi dasar utama sebuah persaudaraan yang sejati. Orang yang mengimani Yesus dipanggil untuk menjadikan kehidupannya sebagai kesaksian atas iman yang diyakininya.

Sebab, iman yang hidup tidak berhenti pada pengakuan. Ia harus tumbuh menjadi tindakan, menjadi kasih yang dapat dirasakan, pengampunan yang diberikan dengan tulus, serta kebaikan yang dilakukan secara konsisten.

Iman yang Terlihat dalam Perbuatan
Pastor Pius menegaskan bahwa menjadi bagian dari keluarga Yesus harus disertai dengan ikatan iman yang sejati dan kesetiaan untuk melakukan perbuatan baik.

“Menjadi keluarga Yesus harus disertai ikatan iman sejati dan setia melakukan perbuatan baik secara konsisten.”

Pesan ini menjadi refleksi penting bagi kehidupan umat beriman di tengah dunia yang sering kali menghadirkan berbagai tantangan dalam relasi antarmanusia.

Tidak sedikit hubungan yang retak karena sulitnya seseorang mengampuni, menerima perbedaan, atau mengesampingkan kepentingan diri sendiri.

Karena itu, panggilan menjadi saudara Yesus sekaligus merupakan panggilan untuk membangun keluarga Allah dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga Allah bukan hanya sebuah gagasan spiritual, melainkan sebuah persekutuan yang harus diwujudkan melalui cara manusia memperlakukan sesamanya.

Mengasihi dan Mengampuni sebagai Jalan Persaudaraan
Menurut Pastor Pius, terdapat tanda-tanda yang dapat menunjukkan seseorang sungguh-sungguh menghidupi panggilannya sebagai bagian dari keluarga Yesus.

“Kita dipanggil menjadi saudara Yesus dan membentuk keluarga Allah. Cirinya: mengimani Yesus, saling mengasihi, mengampuni dan berbuat baik.”

Kasih, pengampunan, dan kebaikan menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan bersama. Ketiganya bukan sekadar nilai moral, melainkan buah dari iman kepada Kristus.

Mengasihi berarti membuka ruang bagi sesama. Mengampuni berarti berani melepaskan luka dan dendam. Sementara berbuat baik berarti menghadirkan iman dalam tindakan yang konkret dan dapat dirasakan oleh orang lain.

Dalam kehidupan keluarga, komunitas, masyarakat, bahkan dalam kehidupan berbangsa, nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting. Sebab persaudaraan yang sejati tidak dibangun hanya oleh kesamaan hubungan darah, suku, latar belakang, maupun kepentingan, tetapi oleh kesediaan untuk saling menghargai dan menghadirkan kebaikan.

Ketika Kasih Kehilangan Ruang
Pada bagian akhir permenungannya, Pastor Pius memberikan penegasan yang menjadi bahan introspeksi bagi setiap orang beriman. “Org yg tdk mampu mengasihi, mengampuni dan berbuat baik, mengingkari esensi dari keluarga Yesus.”

Pesan ini mengajak umat untuk melihat kembali kehidupan iman masing-masing. Sebab, pengakuan sebagai pengikut Kristus semestinya berjalan seiring dengan kesediaan untuk menghidupi ajaran-Nya.

Di tengah kehidupan yang penuh dengan perbedaan dan dinamika, panggilan untuk menjadi saudara Yesus mengandung sebuah tanggung jawab moral dan spiritual.

Setiap orang dipanggil untuk menghadirkan wajah Kristus melalui kasih yang nyata, pengampunan yang tulus, dan kebaikan yang tidak mengenal batas.

Pada akhirnya, keluarga Allah dibangun bukan hanya di dalam ruang-ruang ibadah, melainkan di tengah kehidupan sehari-hari. Di rumah, di tempat kerja, di tengah masyarakat, dan dalam setiap perjumpaan dengan sesama.

Di sanalah iman menemukan bentuknya. Di sanalah persaudaraan diuji. Dan di sanalah setiap orang beriman diajak untuk membuktikan bahwa menjadi saudara Yesus berarti bersedia hidup dalam kasih, mengampuni dengan ketulusan, serta terus berbuat baik sebagai wujud nyata dari kehendak Bapa di surga.(jk)
Sumber renungan: Pastor Pius Heljanan, MSC
Bacaan Injil: Matius 12:46-50

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *